Melihat punggungmu dari kejauhan. Dan itu terakhir kalinya saya melihat kamu, Gil.
2 tahun yang lalu.
Melihat punggungmu dari kejauhan. Dan itu terakhir kalinya saya melihat kamu, Gil.
2 tahun yang lalu.
Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci.
Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.
Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya.
Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.
Tapi, dasarnya tetap cinta.
Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.
Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.
Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian.
Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.
Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.
Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.
Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu
Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu.
Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.
Pada hari ini, aku patah hati.
aku semakin mendekati tempat asalku: ketiadaan. Ibuku bilang, dunia ini sendiri pun lahir dari ketiadaan. Karena lahir dari ketiadaan, mengapa pula harus mencemaskan kehilangan?
Ketiadaan itu meluaskan, kata Ibu, dan mempertemukan manusia dengan banyak hal, di antaranya cinta. ‘Aku berharap bisa melindungimu dari patah hati. Tapi itu tak mungkin.’
‘Kenapa, Bu?’
‘Karena mengalami kehilangan adalah bagian dari kembali kepada menemukan. Tapi jangan pernah kaulupa, kau tak akan pernah kekurangan cinta.’
‘Karena cinta itu besar?’
‘Karena aku tak akan berhenti mencintaimu.’
‘Seberapa besar kau mencintaiku, Bu?’
‘Sebesar kuku jari.’
Aku yang sedang menggigiti kuku jari tengahku terdiam. ‘Kuku jari?’
Ibu menatapku dengan tersenyum. Senyum yang selalu aku rindukan, terutama ketika aku patah hati. Dan malam ini, aku mengalaminya.
‘Iya. Kuku jarimu selalu tumbuh meski kaupotong. Sebesar itulah cinta. Tak pernah sangat besar, tidak juga terlalu kecil. Cinta itu cukup.’
Jika kau bermimpi buruk, segara bangunkan diriku.
Aku akan menceritakan dongeng untuk mu, sambil memelukmu.
Tertidur saling berpelukan.
Dan kau tidak akan bermimpi buruk lagi.
Seperti itulah cinta bekerja dalam diriku.
Saat selesai menjalani sebuah petualangan, sebuah perjalanan.
Pada akhirnya seseorang pasti butuh untuk pulang. Pulang untuk melepas lelah, pulang untuk bertemu dengan yang terkasih untuk berbagi tawa dan cerita tentang serunya sebuah petualangan.
Pulang pastilah membutuhkan “Rumah” sebagai tujuan.
Aku pernah menawarkan diri menjadi “rumah” tempatmu pulang setelah berpetualang, Memang aku tidak memutuskan untuk ikut serta petualanganmu bukan aku tak mau. Aku hanya menjadi realistis disaat kamu tidak rasional. Bukankah begitu selayaknya sebuah hubungan? Harus saling jadi penyeimbang disaat timpang.
Aku menunggumu kembali dari petualanganmu. Mengisi hari dengan melakukan hal yang sedang kuusahakan supaya suatu saat hidup menjadi lebih mudah.
Lalu kamu pulang, akan kusambut didepan rumah dengan rasa rindu yang membucah, kusalam tanganmu sebagai bentuk pengabdian, kusiapkan air panas untukmu mandi, kukeluarkan semua baju kotormu. Aku buatkan kamu makanan yang bisa kumasak dan layak untuk dimakan telur dadar misalnya? Kusiapkan teh manis untukmu jangan terlalu panas kan? Selesai beristirahat aku akan menunggumu bercerita, tentang petualanganmu mengejar mimpi. Aku mendengarkan dengan berbinar-binar pasti banyak kejadian seru diperjalanannya.
Sebagai “rumah” mungkin aku bukanlah “rumah” yang sanggup selamanya memberi kenyamanan. Aku hanya manusia biasa yang sebenarnya membutuhkan juga “rumah” untukku minimal merasa nyaman. Membutuhkan “rumah” yang tidak terasa kosong dan dingin. Akupun menyadari sebagai “rumah” pastilah kamu juga jauh dari sempurna. Bukankah ketidak sempurnaan itu ada supaya agar kita berjumpa lalu saling menyempurnakan?
Kukira yang dibutuhkan adalah beradaptasi agar terbiasa.
kini
kamu kembali pergi dari “rumah”
jangan lama-lama ya perginya…
sambil menunggu waktu akan aku bersihkan “ruang tamu” kita untuk menyambutmu pulang nanti, dan aku akan menyambutmu dengan kecupan hangat..
sayang kamu.
..Ya Allah, Engkau pasti rindu mendengar tangisanku….
There’s a light that will never go out. That light called hope. Allah maha baik dan maha penyayang.
Kadang, pura-pura gak tau adalah cara terbaik untuk menghindari permasalahan.
Kadang, ada kata yang tak perlu terucap atau tingkah yang tak perlu dieksekusi.
Karena saya percaya “Orang pintar memang selalu tau apa yang harus dibicarakan, tapi orang bijaksana tau, perlu atau tidak untuk dibicarakan”
Tujuan hidup saya jelas.
Dan lingkup batasan saya telah terlahir serta berkembang dalam benak saya sejak dulu.
Jauhkan diri dari menyakiti.
Saya mudah menyakiti oleh karena itu saya pergi dari hal-hal/orang-orang yang memancing saya untuk menyakitinya.
Menghindar saja. Bahkan tanpanya saya bisa hidup bahagia.
Siapa saya tega menyakiti orang lain. Dan siapa dia berani menyakiti saya.
Saya terlalu kuat untuk terjatuh hanya karena sentilan kecil dari mereka yang tak sanggup mengungkap makna.
Saya kuat.
Saya kuat menghadapi semuanya,
Saya kuat untuk bertahan tidak melukai siapapun.
Amin.
Bahwa hidup itu singkat, coba dan alami sekarang juga, mungkin tak akan ada kesempatan kedua.
Bahwa batas kemampuan kita itu kita yang buat—dan kita yang dobrak—sendiri.
Bahwa ada kalanya kita harus belajar jatuh, lalu belajar berdiri lagi.
Bahwa damai dimulai dari hati.
Bahwa tiap budaya itu mengagumkan.
Bahwa setiap orang itu luar biasa.
Dan bagaimanapun berbedanya kita,
Manusia…
Pada dasarnya sama

Mungkin terutama tentangmu.
Diantara para pemerhati yang lebih banyak tahu soal segala hal dari objek yang dicintai, aku mungkin termasuk salah satu yang masih amatir mengoleksi pengetahuan tentangmu. Bukannya aku tak mencari ini itu, bukannya aku tak bergerak mengerahkan pikiranku untuk mencari tahu. Tapi sepertinya kamu bersembunyi di planet terjauh dari bumi. Meski sejauh apapun kaki mencari, tak kutemukan tombol pembuka misteri keingintahuan hati. Aku tahu ini bukan penasaran, karena telah kukerahkan seluruh perasaan. Aku hanya terheran-heran, belum ada banyak pertanyaan yang terjelaskan lewat jawaban tapi hati semakin menjadi-jadi berlatih seperti sang ahli dalam percintaan. Di kepalaku masih terisi ketidaktahuanku, tapi aku masih ingin seterusnya mencintaimu. Semoga waktu tak mengecewakan angan yang berlayangan, semoga perasaan tetap pada ketetapan, hingga akhirnya duniamu menjadi bagianku satu persatu.
Pada ketidaktahuanmu, aku masih menunggu. Mungkin kini kita seri, sama-sama tidak tahu tentang masing-masing isi hati. Biarlah semesta berkonspirasi, sedang kita sembari menyiapkan hati..
Hati yang baru.
Aku pernah bertemu dengannya sebelum rasa cinta bertahta, rasanya begitu biasa. Bahkan kehadirannya tak pernah dicari oleh kornea. Tapi kini, sejak hati terkena peluru cinta dari cupid si pemanah cinta segalanya jadi berbeda. Jika ia tak hadir, kecewa pun mengalir. Jika ia tak menyapa, ada harapan yang dimatikan tiba-tiba. Begitulah aku tanpanya.
Hapuslah tanya dalam kepala. Hati, berhati-hatilah dalam menjaga rasa yang akan kau titipi. Aku tak tahu mengapa dia yang kini disodorkan oleh semesta untuk membuatku kembali menjadi pecinta, tapi mungkin ini salah satu peranmu untuk kembali bekerja. Mungkin pengetahuanku tentangnya masih begitu amatir, tapi rasanya hati sudah ingin mencintai dengan mahir. Selamat jatuh cinta lagi, hati.

Surat cinta Habibie kepada Ainun
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi……
“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”
……Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku …. - BJ. HABIBIE

Aku tau siapa yang menculikmu, pasti dia pelari tercepat di negri ini. Namanya waktu.
Kamu pergi, aku sendiri. Kamu berubah, aku mempertahankan diri tanpa lelah. Kamu menghilang di telan bumi, aku mencari kabarmu setiap hari. Kamu seakan tak peduli, aku berteman dengan sakit hati. Kamu menemukan pengganti, aku mencoba tuk sembuhkan hati. Kamu bahagia, mungkin itulah salah satu formula setelah aku berdoa. Tapi ketika hati nyaris pulih, kembali ke depan korneaku adalah jalan yang kau pilih. Dan rencana berikutnya mungkin mematahkan perasaan yang terbiasa dengan harapan.
Memulihkan hati tak secepat detik berganti menjadi menit. Kamu tidak pernah tahu bukan? Yang kau tahu hanya mencari bahagia suka-suka dengan cara menaruh luka pada sesiapa saja. Aku tidak ingin mempersalahkan kamu di kolom harianku, mungkin ini juga salah satu kesalahanku. Mungkin jatuh cinta kepadamu juga salah satu keteledoranku. Tapi jika berusaha menutup hati rapat-rapat agar kau tak mendekat, bukankah sebuah penunda luka dan cadangan obat?
Aku mau melewatinya lagi, menyatukan perca mimpi agar jadi seutuhnya ‘kita’ lagi. Tapi tidak pernah kau ‘iya’kan. Bahkan menyuarakan asa saja tidak kau izinkan. Sebenarnya kau pikir kau ini siapa? Berani menggenggam, lalu semudah itu melepaskan. Bukan, ini bukan ‘kita’.
Selamat jalan di rel-mu yang baru, tanpa aku tentunya.
Pada genggaman tanganmu, aku pernah memercayakan masa depanku. Yang kini harus segera kutata kembali supaya sebisa mungkin serupa baru.
Ada titik yang semestinya kutinggalkan, sementara aku masih diharuskan untuk menanggung kecewanya sebuah perasaan.
Meski tidak sepenuhnya bisa melupakan, seperti kamu yang tidak semudah itu menyamakan kembali tujuan agar sama seperti pada permulaan.
Aku sedikit penasaran, apa masih ada kita yang kau imbuhi harapan? Jika tidak, ini adalah terakhir kalinya aku menyapamu lewat kata-kata. Bukan, bukan putus asa atau enggan menjejakkan kaki pada penantian, tapi kupikir berjuang sendiri pun tak ada guna. Kamu harus tau satu hal, banyak rencana-rencana yang tanpa sadar telah kuangankan denganmu sebelumnya, tapi itu hancur beberapa waktu lalu. Kalau dengan melepaskanmu adalah pembuktian, silahkan, lihat dari kejauhan.
Aku tidak akan memaksa hati untuk berjuang sendiri mempertahankan kita yang tak ingin dipertahankan lagi. Pada akhirnya, kitalah penulis yang menamati baris-baris perjalanan ini dengan pemberhentian. Karena mengakhiri di sini bukan berarti alarm bagi hati untuk berhenti memproduksi berlaksa rasa pada sesiapa lagi. Nanti ada masanya dimana kita lelah mencari dan Tuhan mendatangkan objek pengisi hati lagi. Lalu sedialah masing-masing hati untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, kita diberi jeda berlatih diri dan menghentikan letih hati sambil mendewasakan perasaan. Hingga tibalah bahagia yang akan kita jaga saat berperang melawan kecewa.
Selamat pergi, kamu. Selamat menyembuhkan hati, aku. Percayalah, bahagia itu ada meski dengan atau tanpa kita.